Petani Karet Menjerit, Harga Getah Anjlok Hingga 50%

720

Simalungun, Lensawarga.com – Harga getah karet semakin terpuruk, bahkan turun drastis hingga 50%, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari bertani getah karet sontak menjerit tak percaya dengan harga yang ditetapkan para pengumpul/agen getah khususnya di Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Senin (11/5/2020).

Warga Mandasari Saat Menimbang Getah Karet

Hampir setiap minggu harga komoditi karet terus menerus mengalami penurunan. Sebut saja Bu Siti, warga dusun Mandasari yang merupakan salah satu dari ratusan warga petani karet yang mengeluhkan harga getah karet yang semakin terpuruk.

Baca Juga: Pangulu Bosar Nauli Tak Tegas, Koperasi Cenati Tak Memihak Kebutuhan Masyarakat Setempat

Bu Siti hanya bekerja sebagai buruh di ladang orang, yang setiap harinya menderes kebun karet tetangga dengan cara bagi hasil, dimana satu bagian untuk Bu Siti sementara dua bagian untuk pemilik kebun.

Dengan penurunan harga getah karet, penghasilan Bu Siti sudah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan keluarga, sementara suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan kadang kerja, bahkan kadang menganggur di rumah.

Loading...

Bu Siti, tak tahu lagi harus berbuat apa, dirinya hanya meneteskan air mata, saat tahu harga getah karetnya dihargai dengan begitu rendah oleh agen yang biasa membeli darinya.

Tak hanya Bu Siti, masih banyak lagi masyarakat yang tak tahu harus mengadu kepada siapa, setelah mendengar harga getah yang terus menerus mengalami penurunan hingga mencapai 50%.

Salah seorang Agen getah bermarga Butarbutar mengaku, jika dia juga tak mau rugi dikarenakan harga penjualan getah di pabrik terus menurun.

“Mau tidak mau kami harus menurunkan harga saat membeli getah dari masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, harga karet hari ini bahkan bisa jadi akan turun lagi dan tak tahu sampai kapan harga akan kembali stabil.

“Dari info terakhir yang kami dapat dari pabrik PT BSRE yang biasa tempat kami menjual, terjadi antrian panjang dan barang menumpuk dan kemungkinan akan tutup. Jika hal ini terus terjadi harga karet pasti turun lagi, dan kami belum tau dapat untung atau tidak,” kata Butarbutar.

Hal yang sama juga dialami Agen getah bermarga Manurung yang mengaku ikut merasakan imbas dari penurunan harga karet di Pabrik.

“Entahlah ini bang, kami tak tau lagi harus bilang apa sama masyarakat petani karet, harga karet tak bisa bertahan bahkan terus turun, kalo kayak gini untung belum tentu, rugi sudah pasti,” tuturnya.

Penurunan harga getah karet pastinya juga berimbas pada para petani, untuk di Kecamatan Hatonduhan sendiri 40% masyarakatnya adalah petani karet, belum lagi kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Simalungun.

Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa menjelaskan kepada masyarakat, apa yang menjadi penyebab sehingga harga getah karet semakin terpuruk.

Kini nasib petani kecil yang menggantungkan hidup hasil dari tanaman karetnya hanya bisa mengharapkan adanya bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ditambah masalah Covid-19 belum juga tuntas membuat mereka tak tahu lagi harus berbuat apa.

Baca Juga: Masalah Baru Muncul Meski Jalan Ke Bahjambi II Sudah Dialihkan

Pemerintah daerah, khususnya Bupati Simalungun JR Saragih diharapkan dapat segera mengatasi permasalahan ini dan harus bertindak cepat mencari solusi agar para petani karet tak terus menerus mengalami kerugian.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :