Perang Baliho dan Spanduk Caleg di ujung Timur Aceh Utara

Aceh Utara, Lensawarga.com –  Pesta Demokrasi masih beberapa bulan lagi, tapi bagi seorang Calon Legislatif (Caleg) itu waktu yang sangat singkat. Hal tersebut disampaikan Mustafa yang selama ini aktif bekerja sebagai Tim Pemasangan Spanduk dan Baliho saat ditanyakan wartawan, Sabtu (10/11/2018) sekitar Pukul 20.00 WIB.

Spanduk Terpampang di Toko Persimpangan Jalan Nasional

Menurut Mustafa, hampir di semua emperan toko-toko dan persimpangan jalan di kota Perbatasan, di atas pertokoan, bahkan ditempat pesta perkawinan terpampang jelas baliho/spanduk Caleg dengan tulisan bermacam-macam janji.

Baca Juga : Jembatan Lintas Aceh Utara-Aceh Timur seperti Zaman Tahun 1960-an

Loading...

“Ya, gitulah bang, kita hanya menjalankan tugas saja, dan biasanya akan kita pasang ditempat-tempat yang gampang dilihat banyak orang,” ujarnya.

Seandainya diizinkan di tempat fasilitas umum seperti rumah sakit, tempat ibadah, tentunya semua Caleg akan berlomba untuk memasangnya, yang tidak ada baliho/spanduk hanya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Salah seorang warga kota Perbatasan sebut saja namanya Benu yang sehari hari bekerja sebagai pedagang ikan antar desa saat ditanya tentang Pilkada, dirinya menjawab bahwa itu hanya kepentingan pribadi Caleg dan pengikutnya.

“Perang spanduk/baliho Caleg hanya berlangsung dalam 5 tahun sekali, janji-janji tertulis hampir di setiap spanduk/baliho, Namun menurutnya, rakyat tidak akan percaya lagi, karena rakyat sudah tau akal bulus seorang Caleg sangat licik dan super halus, mereka butuh rakyat saat ada kepentingan pribadinya,” ucap Benu.

Menurut Benu, Siapapun yang terpilih menjadi wakil rakyat nanti dia pasti lupa siapa yang memilih dia dulu, karena tahun-tahun pertama bertugas Caleg itu harus memikirkan kembali modal begitu juga tahun ke dua sudah pasti untuk timsesnya dan orang terdekat, begitu juga untuk seterusnya dan seterusnya.

Spanduk dan Baleho di Toko di Wilayah Aceh Utara

“Untuk rakyat kalau ada musibah, misalnya seperti banjir itupun hanya sebatas beras 15 Kg, telur ayam 15 butir seandainya pun bisa untuk diketahui rakyat yang terkena musibah di kulit telur itu akan di tulis ini bantuan dari wakil rakyat namanya polan dari Partai Pulen,” ucap Benu.

“Kalau masalah proyek desa itu sudah ada Anggaran Dana Desa (ADD) yang dianggarkan pemerintah pusat untuk seluruh daerah yang ada di Indonesia, meskipun proyek desa itu sering katakan itu dana aspirasi dewan, yang lebih parahnya lagi wakil rakyat kita sering mengadakan acara-acara yang tidak begitu penting,” sebut Benu lagi.

Meski demikian, Benu tetap berharap agar kedepan semoga Pesta Demokrasi kali ini tidak ada bakar membakar baliho/spanduk, begitu juga untuk Caleg jangan ada saling menjelekkan.

Baca Juga : Masyarakat Minta Pemkab Bangun Gapura Pembatas di Ujung Timur Aceh Utara

“Mari kita membangun daerah kita, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Politik boleh beda kita tetap bersaudara, dalam berpolitik tidak ada yang abadi,” tandasnya.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :