Meski Sempat Diusir, Tenaga Medis Covid-19 di Sumut Tetap Setia Merawat Pasien

2964

Medan, Lensawarga.com – Kabar tak sedap kembali menimpa tenaga medis di Deli Serdang, Sumatera Utara, tepatnya di Rumah Sakit dr. GL Tobing Tanjung Morawa, yang menjadi garda terdepan dalan menangani pasien virus corona (Covid-19).

dr. Gregeo Purba, Tenaga Medis Covid-19 di RS dr. GL Tobing

Meski sebelumnya mereka dikabarkan sempat diusir dari hotel yang menjadi tempat mereka menginap. Bahkan ada beberapa diantara tenaga medis tersebut juga belum menerima gaji sejak merawat pasien Covid-19.

Baca Juga: Polsek Tanjung Morawa Rutin Melaksanakan Patroli Keliling

Informasi diusirnya sejumlah tenaga kesehatan (nakes) dan perawat itu tersiar dan viral di media sosial. Namun, hal itu dibantah oleh Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut, dr. Aris Yudhariansyah.

Aris mengatakan bahwa tidak ada pemutusan secara sepihak kepada para tenaga kesehatan pasien Covid-19 tersebut.

Loading...

“Yang ada setiap bulan RS dr. GL Tobing, rumah sakit rujukan Sumatera Utara itu memperbarui sistem SDM-nya. Sehingga tidak membuat tenaga kesehatan menjadi lebih lama bekerja di RS tersebut,” kata Aris dalam keterangan resminya di akun YouTube Humas Sumut, Sabtu (2/5/2020).

Menurutnya, tenaga medis yang bekerja di RS dr. GL Tobing dan RS Martha Friska merupakan relawan-relawan yang memang datang dan direkrut untuk membantu rumah sakit rujukan Covid-19 tersebut.

Aris mengatakan, dalam waktu dekat Pemprov Sumut akan segera membayar gaji para tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19 tersebut.

“Pembayaran gaji diatur dalam beberapa regulasi. Khusus untuk RS dr. GL Tobing dan RS Martha Friska, dalam waktu dekat akan kita bayarkan (gaji). Saya ulangi, dalam waktu dekat akan segera kita bayarkan (gaji),” katanya.

Akan tetapi pernyataan Aris tersebut ditanggapi langsung oleh dr. Gregeo Purba yang merupakan salah satu tenaga kesehatan di RS dr. GL Tobing.

Dalam sebuah video yang diunggah di channel Youtube Joniar News Pekan, dr. Gregeo membeberkan kronologi yang sebenarnya terkait berita yang viral dan meluas di masyarakat tersebut.

“Kami kemarin sempat ‘diusir’ dari hotel ini (Travel HUB Hotel Kualanamu) bahwa karena kami tidak setuju dengan SOP (Standard Operating Procedure) yang mengatakan bahwa kami diharuskan untuk pindah dari 1 orang 1 kamar menjadi 2 orang 1 kamar,” kata dr. Gregeo, Sabtu (23/5/2020).

Meski begitu, para tenaga medis tetap setia dan lanjut untuk tetap mengikuti prosedur tersebut, karena mereka memikirkan semua pasien-pasien yang ada di RS GL Tobing.

“Kami mematuhi arahan dari Dinkes tersebut yang mengatakan alasannya karena over budged atau kekurangan dana. Dan kami berusaha untuk memaklumi itu dan mengikuti arahan tersebut, meskipun physical distancing tidak terlaksanakan,” ujarnya.

Selain itu dirinya juga mengeluhkan sarana transportasi yang diberikan oleh Pemprov yang tidak sesuai dengan SOP.

“Masalah Bus, yang dulunya juga kami dijaga physical distancing-nya dengan Bus besar dari Pemprov, sekarang kami pulang pergi dengan Bus yang kecil, sehingga jarak kami antar 1 orang dengan yang lain itu, bahkan bersentuhan,” kata dr. Gregeo.

Tak hanya itu dr. Gregeo juga menyayangkan adanya informasi terkait data-data pasien dan juga tenaga kesehatan yang positif Covid-19 bocor dan menyebar ke masyarakat.

“Kami semua untuk para nakes, semuanya itu pasti ada terkena paparan dari Covid 19, karena memang kami langsung terjun untuk merawat pasiennya sendiri dan memang ada beberapa nakes kita yang bekerja disana terkonfirmasi positif Covid-19. Akan tetapi sangat disayangkan Dinas Kesehatan Pemprov malah semakin membuat heboh dan mempermalukan keluarga para medis yang bekerja merawat pasien Covid-19,” ujar dr. Gregeo.

Selain itu ia juga menyayangkan adanya tindakan intimidasi terhadap keluarga pasien positif Covid-19 yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

“Saya juga ada mendengar beberapa berita, bahwa keluarga dari nakes-nakes kita itu seperti tersudutkan, oleh karena adanya laporan-laporan Dinkes Kabupaten/Kota, bahwa tenaga medis kita terpapar Covid-19,” ujar dr. Gregeo.

“Jadi akhirnya keluarga mereka yang di kampung merasa malu dan tersingkirkan dengan adanya berita itu. Kami sangat menyayangkan dan sangat kecewa dengan tersebarnya berita tersebut, karena itu melanggar kode etik kerahasiaan pasien,” sambungnya.

Menurut dr. Gregeo, seharusnya setelah diperiksakan atau di Swab test, hasilnya langsung dikirim ke laboratorium USU, dan hasil yang keluar dari Laboratorium kemudian diberikan langsung ke rumah sakit yang bersangkutan dan tidak boleh disebarkan.

“Jadi SOP-nya, harusnya pihak Dinkes, menjaga data yang sudah diperiksakan di Laboratorium USU, tidak boleh tersebar luas dan harus dirahasiakan,” beber dr. Gregeo.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. F.B yang meminta agar dinas-dinas terkait segera berbenah dan memperbaiki SOP yang ada.

“Harapannya Dinas Provinsi dan Dinas Kesehatan, untuk hasil swab tenaga kesehatan agar dijaga privasinya dan haknya. Kami jadi was-was untuk melakukan swab test, kalau nanti hasilnya kami dibocorkan,” ujarnya.

Baca Juga: Polda Sumut Gelar Sertijab dan Pisah Sambut di Jajaran PJU

“Tolong agar diperbaiki SOP untuk pemberian penyampaian hasil swabnya,” tandasnya.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :