Mantan Kombatan GAM Pang Sumatera: Ghazali Abbas Jangan Salah Minum Obat

Aceh Tamiang, Lensawarga.com – Wakil Panglima Aceh Tamiang Budi Satria atau lebih dikenal dengan Pang Sumatera, melihat dalam sepekan ini tentang pemberitaan di media sosial semakin memanas dengan muncul sebuah pernyataan yang dikeluarkan seorang Wakil Rakyat perwakilan Daerah di Jakarta hingga membuat dirinya angkat bicara.

Wakil Panglima Aceh Tamiang Budi Satria (Pang Sumatra)

Menurut Pang Sumatera, kata-kata yang dikeluarkan dari mulut senator itu tidak layak dan salah minum obat. Seharusnya yang dilakukan adalah memperkuat kedudukan lembaga Wali Nanggroe, karena Masih banyak hutang Pemerintah Pusat yang belum dilunasi, butir-butir MoU (Memorandum of Understanding) dan juga perintah UUPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak).

Baca Juga : Wajib Tahu, Halte Bus ini Hanya Ada di Kabupaten Aceh Timur

Loading...

“Maka kita ingatkan kepada Jakarta, jangan malah menghilangkan yang sudah ada di Aceh. Proses perjalanan panjang dengan penuh pengorbanan yang berdimensi hukum, militer, dan hak asasi manusia (HAM), konflik yang terjadi di Aceh selama 30 tahun merupakan salah satu konflik berdarah yang menimbulkan banyak pejuang gugur dalam medan pertempuran lebih 30 ribu syuhada,” kata Pang Sumatera kepada Lensawarga.com, Jumat (16/11/2018).

Diketahui, Senator Aceh Ghazali Abbas Adan sebelumnya menyatakan, bahwa Lembaga Wali Nanggroe tak diperlukan lagi, setelah berpulangnya ke rahmatullah, Almukarram Dr Tgk Di Tiro Hasan Muhammad. Hal itu disampaikan Ghazali Abbas, Selasa (13/11/2018) di Jakarta, menyusul berkembangnya berbagai wacana tentang akan berakhirnya masa jabatan Wali Nanggroe yang saat ini diemban Malik Mahmud Al Haytar.

“Kami selaku mantan Kombatan GAM, mengecam keras terhadap pernyataan Ghazali Abbas karena sangat menyakiti hati semua mantan kombatan GAM/KPA yang selama ini sudah menjaga perdamaian yang sangat baik,” kata Wakil Panglima Aceh Tamiang itu.

“Maka saya meminta kepada pemerintah pusat jangan sampai gara-gara seorang Ghazali Abbas yang tidak suka dengan perdamaian yang sudah 13 tahun lamanya terjalin antara GAM dan RI bisa terukir kembali gara-gara statemen seorang senator bodoh yang selama ini hanya memikirkan perut pribadinya saja dan mengambil keuntungan dari suara rakyat saja selama ini di Aceh,” sambungnya.

Pang Sumatera itu juga menyebut, Ghazali mencoba memanaskan keadaan dengan menyebutkan bahwa lembaga Wali Nanggroe itu tidak penting lagi yang lahir dari rahim MoU Helsinki, setelah terciptanya perdamaian Antara GAM dan RI.

“Maka saya sebagai mantan kombatan GAM meminta sama pemerintah pusat jangan terpengaruh dengan ide-ide bodoh seorang senator yang bisa membuat perdamaian itu kembali kepada keadaan dimasa Silam. sudah 13 tahun lamanya kita bina perdamaian bersama, jangan sampai terkuak kembali gara-gara pernyataan yang tidak logis dari seorang senator tersebut,” tegas Pang Sumatera.

Baca Juga : Pemuda Tanjung Minjei Bakti Sosial di Masjid Baitul Muttaqin

Selain mempunyai dasar histori yang cukup panjang dan kuat, Lembaga Wali Nanggroe juga merupakan amanat dari MoU Helsinki. Pemerintah pusat, atau siapapun tidak dapat mengangkangi butir-butir MoU, UUPA sebagai lex specialis Aceh, yang mengimplementasikan MoU tidak dapat diutak-atik atau dibonsai oleh siapapun,” pungkasnya.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :