Komunitas Bela Indonesia dan Aliansi Sumut Bersatu Adakan Pelatihan Juru Bicara Pancasila di Medan

38

Medan, Lensawarga.com – Intoleransi kian mengakar di Sumatra Utara terutama dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini. Sementara itu, dalam rilisnya beberapa bulan yang lalu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menemukan data yang mengkhawatirkan.

Komunitas Bela Indonesia dan Aliansi Sumut Bersatu Adakan Pelatihan Juru Bicara Pancasila di Medan

Sejak tahun 2005, lalu 2010, 2015 hingga 2018, warga pro Pancasila terus menurun dari 85,2 % menuju 75,3 %. Selama 13 tahun terakhir, dukungan warga kepada Pancasila menurun sekitar 10 %. Di sisi lain, di era yang sama, pendukung NKRI bersyariah naik 9 persen. Publik yang pro NKRI bersyariah tumbuh dari 4,6% (2005) menjadi 13,2% (2018), 13 tahun kemudian.

Baca Juga : Presiden Jokowi Perintahkan Menhub untuk Jadikan Raden Inten II Bandara Internasional

Hal ini yang menjadi pertimbangan Aliansi Sumut Bersatu sebagai lembaga yang memang peduli pada pluralisme dan kebangsaan untuk setuju bekerjasama dengan Komunitas Bela Indonesia (KBI) menyelenggarakan Pelatihan Juru Bicara Pancasila.

“Pelatihan ini adalah pelatihan yang luar biasa karena semangatnya ialah cinta Pancasila dan membela keberagaman Indonesia,” ujar fasilitator KBI Ahmad Khairul Umam.

Loading...

Pelatihan Juru Bicara Pancasila ini cukup matang dipersiapkan. Komunitas Bela Indonesia sebagai penyelenggara telah lebih dulu membuat buku rujukan utama yang berjudul Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia, yang ditulis oleh Denny JA dan Tim.

Adapun Pelatihan ini diselenggarakan di Hermes Palace Hotel Medan pada Jumat (23 November hingga 26 November 2018), dalam pelatihan intensif selama 4 hari ini 40 orang peserta terpilih akan dibekali materi menulis, debat, dan manajemen media sosial agar lebih mumpuni dalam berkampanye terkait Pancasila, keberagaman, anti-toleransi, kebhinekaan, dan anti-radikalisme di media sosial.

Media sosial saat ini memang tengah menjadi ranah penting dari pertarungan wacana. Berkembang luasnya tren penyebaran hoaks dan ujaran kebencian membuat warganet kita mudah terjerumus dalam konflik dan kebencian. Karena itu, diperlukan gerakan bersama untuk membanjiri dunia media sosial dengan konten-konten positif dan mencerahkan.

“Rumah bersama kita Indonesia sedang diganyang, sedang digerogoti untuk diganti ideologinya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” tambah perwakilan KBI Nasional Ilma Sovriyanti Ilyas dalam sambutannya.

“Kita tidak memulai tetapi sedang mempertahankan. Konteksnya pelatihan ini dan keresahan para aktivis terkait kondisi Indonesia saat ini. Rumah kita bersama sedang diganyang, sedang digerogoti untuk diganti ideologinya,” tambah Ilma.

Sementara itu, Lely Zailani Hapsari mewakili Himpunan Serikat Perempuan Indonesia, mengatakan gerakan untuk intoleransi sudah mulai masuk ke rumah-rumah di kampung-kampung. Gerakan untuk melawan itu dengan cara yang baik dan damai harus disegerakan.

Baca Juga : 8 Tanda Orang dengan IQ Tinggi, Apa Kamu Termasuk?

Ester Ritonga selaku CU Para Sahabat turut menyampaikan pesan, menurutnya yang sudah berbeda tidak mungkin jadi satu yang diseragamkan.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :