Inilah Ojol Pendatang Baru yang Akan Menantang Grab dan Gojek

371

Jakarta, Lensawarga.com – Munculnya layanan ojek online (ojol) baru di Indonesia, semakin memberi banyak pilihan bagi masyarakat untuk memakai jasa transportasi kendaraan terutama sepeda motor dan mobil.

Ojol Pendatang Baru

Kini telah hadir beberapa pesaing baru Grab dan Go-Jek yang seperti diketahui bahwa kedua layanan transportasi tersebut telah bertahun-tahun menguasai pasar Indonesia. Beberapa ojol baru tersebut yakni, Anterin, Gaspol, Bonceng, Cyberjek, Beujek, dan Bitcar.

Baca Juga : 4 Alasan Daihatsu Grand New Xenia 2019 Pilihan Ideal

Tentunya saja kehadiran ojol tersebut akan menjadi pertanyaan, bisakah ojek-ojek tersebut meruntuhkan dominasi Grab dan Go-Jek di Indonesia saat ini?

Menilik dari tiap-tiap layanan/platform, ojol pendatang baru tersebut dapat dikatakan menyamai, tentu untuk menyaingi Grab dan Gojek masih sulit dilakukan para pendatang baru tersebut, dikarenakan terdapat beberapa hal yang belum dimiliki oleh platform ojol pendatang baru ini, diantaranya yaitu kompleksitas layanan yang disediakan.

Loading...

Gojek dan Grab seperti diketahui saat ini, tak hanya menyediakan layanan transportasi point to point, akan tetapi juga layanan pesan antar makanan, selain itu ada pula layanan antar barang hingga transaksi melalui fasilitas uang digital seperti Go Pay dan OVO. Dimana kedua aplikasi pembayaran tersebut telah menjelma menjadi on demand apps bahkan super apps.

Tak sampai disitu saja, Gojek dan Grab bahkan sukses menjadi pionir di kawasan Asia Tenggara dalam membangun ekosistem digital.

Kedua layanan ini juga menyediakan kemudahandalam bertransaksi bagi pelanggannya, seperti Go-Jek yang memiliki layanan pembayaran seperti Gopay dan OVO pada Grab. Ditambah lagi saat ini yang tengah menjadi tren menuju ke cashless.

Tak hanya model bisnis, para ojol baru ini juga dihadapkan dengan tantangan perilaku pengguna aplikasi.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh lembaga riset Spire Research and Consulting kepada 280 responden, brand Gojek dan Grab adalah merek yang sangat populer saat ini. Kedua platform tersebut telah menjelma menjadi aplikasi yang melekat dengan kehidupan sehari-hari para penggunanya.

Responden yang memakai ojek ride hailing 1-2 kali dalam sehari mencapai 58% (Grab Bike) dan 64% (Gojek). Sedangkan yang menggunakan ride hailing mobil 1-2 kali dalam seminggu 25% (Go-Car). Bahkan terdapat pula tren yang menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi penggunaan aplikasi adalah harga dan promo.

Adanya perang harga yang terjadi antara kedua perusahaan rintisan tersebut, tentunya secara tak langsung membuat pengguna memiliki karakteristik yang sangat sensitif terhadap tarif. Dan kemungkinan besar para Pengguna akan memilih aplikasi yang menawarkan harga termurah dan promo terbesar. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab yang membuat pengguna cenderung tidak loyal terhadap satu brand.

Menurut studi Spire Research and Consulting, pengguna GoJek yang loyal (hanya menggunakan GoJek, tidak aplikasi lain) adalah sebanyak 50%, sementara pengguna Grab yang loyal (hanya menggunakan Grab, tidak aplikasi lain) terdapat 66%.

Tentu jika ojol pendatang baru tersebut jika ingin menyaingi mereka berdua, harus siap dengan melakukan back up pendanaan yang besar dan kuat.

Saat ini, seperti yang telah diketahui bersama, kedua perusahaan rintisan Gojek dan Grab didanai oleh investor strategis seperti Google, Temasek, KKR dll yang membuat keduanya kini menyandang gelar decacorn alias bisnis dengan valuasi mencapai US$ 10 miliar atau Rp. 140 Triliun (asumsi kurs rupiah 14.000/USD).

Baca Juga : Hyundai Kona, SUV Compact Asal Negeri Ginseng

Hal ini dapat diartikan, bahwa perang harga dan promo yang lebih dikenal dengan istilah bakar uang tadi, bukan bidang bermain yang tepat bagi ojol pendatang baru dengan modal kecil dan tidak memiliki akses pendanaan ke investor strategis.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :