Gas Elpiji 3 Kg Langka di Kecamatan Langkahan

Aceh Utara, Lensawarga.com – Ketersediaan gas bersubsidi atau elpiji 3 kilogram (Kg) kembali langka di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Warga di sejumlah desa dalam kecamatan itu kesulitan untuk memperoleh gas elpiji tersebut. Jika pun ada stok barang, harganya sangat mencekik leher.

Masyarakat Saat Mencari Gas Elpiji 3 Kg (Foto: Muhammad-Lensawarga.com)

Abdul Salam, warga Desa Alue Krak Kayee kepada Lensawarga.com, Sabtu (17/11/2018) mengatakan, warga di tempat dia tinggal terpaksa harus membeli gas 3 kilogram tersebut dari pengecer dengan harga mencapai Rp 37 ribu per tabung, jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 18.000 per tabung. Ironisnya, ungkap dia, sudah harganya sangat melambung, stok di pengecer pun cukup terbatas.

Baca Juga : Gas Elpiji 3 Kg Semakin Langka di Aceh Utara, Masyarakat Mengeluh

Loading...

“Harusnya, setiap ada pasokan gas subsidi ke pangkalan, diutamakan dulu ke warga sekitar. Tapi yang terjadi, saat pasokan gas tiba, pihak pangkalan terkesan seperti enggan menjual ke masyarakat, tapi stok itu justru diambil dengan becak dan dibawa ke tempat lain,” katanya.

Lanjut Abdul Salam, dirinya mengharapkan kepada dinas terkait agar melakukan pengawasan dan penertiban terhadap pangkalan gas di Kecamatan Langkahan dan sejumlah Kecamatan lainnya di wilayah ujung Timur Aceh Utara.

“Sungguh sangat prihatin nasib kami orang kecil dipermainkan seperti ini. Sudah harganya sangat mahal, gas juga sulit diperoleh. Padahal, kita tahu harga gas bersubsidi paling tinggi biasanya Rp 18 ribu per tabung. Kalau harga resminya malah Rp 16 ribu,” sebut dia.

Hal yang sama juga disampaikan sejumlah warga di Desa Padang Meuria di kawasan desa itu dan sekitarnya, salah seorang warga bernama Hadijah mengungkapkan, bahwa harga gas 3 kilogram rata-rata dijual pedagang dengan kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 37 ribu per tabung.

“Tapi anehnya, gas kok bisa langka, padahal di kawasan itu ada sejumlah pangkalan elpiji. Masalahnya mungkin karena setiap ada pasokan datang, stok selalu tidak bertahan lama, hanya beberapa jam sudah habis. Tak heran, di setiap pangkalan selalu terpampang kertas bertulis gas habis,” ujar Hadijah.

Resah dengan kondisi seperti itu, warga pun mengharapkan agar pemerintah dapat melakukan pengawasan secara berkesinambungan.

Baca Juga : Mantan Kombatan GAM Pang Sumatera: Ghazali Abbas Jangan Salah Minum Obat

“Supaya oknum pangkalan tidak sesuka hati mendistribusikan gas bersubsidi ke orang yang tidak berhak. Kalau perlu juga dilakukan penindakan tegas jika ditemukan ada pelanggaran,” tandasnya.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :