Gaji Tidak Dibayar Hingga Dipersekusi di Desa Sendiri

Aceh Timur, Lensawarga.com – Sungguh miris yang dialami oleh keluarga Mansyari (31) warga Gampong Seuneubok Pangou, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Dia kini dipersekusi oleh sang penguasa di Desa sendiri dengan alasan telah melakukan kesalahan.

Keluarga Mansyari

Mansyari memiliki seorang istri bernama Hanisah (24) serta dua orang anak bernama Zainal Mukhlis (7) dan Muhammad Ihsan (2) dengan usia yang masih kecil, mereka tinggal di sebuah rumah panggung tua dengan atap yang dipenuhi lobang (Bocor). Mansyari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu, selain itu Ia juga sebagai Kamtibmas di Desanya sejak 2016 yang lalu dengan gaji Rp 200 ribu/bulannya. Sementara istrinya hanya mengurus rumah tangga.

Baca Juga : Pejabat Ditjen PAS Kunjungi Cabang Rutan Idi

Loading...

Sejak tahun 2018 hingga saat ini, gaji Mansyari sebagai Kamtibmas Desa tidak dibayar serta bantuan sosial lainnya juga tidak diberikan, seperti bantuan rehab rumah yang menggunakan dana desa. Meskipun hal itu sudah di instruksikan oleh Bupati Aceh Timur, bahwa setiap desa harus merehab rumah warga yang kurang mampu dengan jumlah 10 unit/tahun untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun tetap saja Mansyari tidak mendapatkannya.

Mansyari juga menceritakan, pada saat hari lebaran lalu dirinya sedang membutuhkan uang untuk kebutuhan keluarga dan terlilit hutang. Yang ada hanya seekor lembu Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) yang dipelihara Mansyari sebagai solusi dari masalahnya itu.

“Saat itu bertepatan dengan hari lebaran, keluarga dirumah sedang kesusahan karena tidak ada uang. Kemudian saya datang kerumah Keuchik untuk meminta izin lembu BUMG yang saya pelihara itu untuk dijual dan uangnya saya pakai. Kemudian Pak Keuchik menyetujui dan mengeluarkan surat untuk menjual lembu tersebut dengan harga kalau tidak salah Rp 6,8 juta,” cerita Mansyari, Senin (11/2/2019) lalu.

“Namun berapa hari kemudian masalah pun timbul, bahwa saya telah menggelapkan lembu BUMG. Hingga saat ini gaji saya sebagai Kamtibmas tidak dibayar oleh Keuchik dan bantuan sosial lain juga tidak dikasih lagi untuk saya dan keluarga,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bahwa dirinya mengakui kalau salah karena telah menggunakan semua uang hasil menjual lembu itu, dan dia juga sedang berusaha mengumpulkan uang untuk menggantikannya.

“Saya berharap kepada pemerintah Gampong Seunneubok Pangou untuk tidak mempersekusi saya sedemikian rupa, namun memperlakukan saya seperti warga lain juga,” ujar Mansyari.

Sementara itu, Keuchik Gampong Seuneubok Pangou, Idris mengatakan, bahwa dirinya tidak membayar gaji Mansyari merupakan sebagai hukuman baginya, karena telah menggelapkan uang BUMG, begitu juga dengan bantuan sosial lainnya seperti merehab rumahnya, karena itu sebagai sangsi bagi orang yang telah mengambil uang BUMG untuk menjadi contoh bagi masyarakat lain.

“Saya mengeluarkan surat jual lembu tersebut kepada Tgk. Ilyas karena beliau Ketua BUMG, yang boleh diambil oleh orang Pelihara hanya keuntungan dari hasil penjualannya saja, sementara modal awal dikembalikan ke BUMG,” ujar Idris,

“Kalau tidak salah lembu tersebut Rp 6,8 juta, hak orang pelihara (Mansyari) Rp 600 ribu, sementara Rp 6 ,2 juta dikembalikan ke desa karna sistem bagi hasil, untuk orang pelihara 70% , untuk Desa 30%,” jelas Idris kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Idris juga mengatakan, bahwa Kamtibmas itu saya yang bentuk dan bekerja dengan SK yang saya buat, jadi saya tahu mana yang bekerja dan mana yang sudah mengganggu ketertiban gampong (Karena menjual Lembu dianggap menggangu ketertiban-red).

“Gaji Mansyari sampai saat ini masih sama bendahara Gampong dan tidak saya pakai, namun kita pending dulu tidak dikasih untuk diproses uang BUMG yang sudah diambilnya. Berapa lah gaji itu hanya Rp 2 juta sekian sementara uang desa yang diambil Rp 6 juta siapa banyak 2 juta dengan 6 juta kadang nanti harus kita potong dari gaji tersebut,” beber Idris.

“Saya tidak langsung memberikan gajinya karena tidak mau di salahkan oleh Masyarakat. Setelah diproses hokum nanti baru kita selesaikan, apa uang gaji tersebut dikasih ke orangnya atau dikembalikan ke Negara. Itu baru ditentukan setelah kita Musyawarah dengan Masyarakat Desa. Jadi harapan saya, silahkan dipublikasi di media massa, namun jangan disalahkan yang benar dan membenarkan yang salah itu saya yang kami harapkan,” sambungnya lagi.

Sementara itu, Bahtiar selaku mantan Ketua Tuha Peut Gampong Seuneubok Pangou saat diminta tanggapan hal tersebut mengatakan bahwa, Keuchik memang sebagai penguasa di Desa, namun meski demikian juga tidak boleh semena-mena.

“Kalau kita mengerti Masyarakat ini harus dipimpin. Kalau menurut saya pribadi masyarakat ini harus dilakukan pembinaan agar mereka lebih mengerti, karena masalah menjual lembu BUMG dengan penahanan gaji orang itu adalah dua hal yang berbeda,” sebut Bahtiar.

Baca Juga : Koalisi Mantan Kombatan GAM Aceh Timur Deklarasi Pemilu Damai

“Masalah dia menjual lembu BUMG juga harus kita cari solusi agar dibayar, bagaimana caranya yang penting dengan sikap yang baik, sementara untuk bantuan sosial, seperti rehab rumah ya dilakukan juga. Jadi jangan langsung diambil sikap untuk dikucilkan,” tutup Bahtiar.

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :