Kisah Inspiratif Yu Yuan Gadis Kecil Penderita Leukemia Berhati Malaikat

180

Lensawarga.com – Kisah inspiratif tentang seorang gadis kecil bernama Yu Yuan yang cantik serta memiliki sepasang bola mata yang indah, berhati mulia, lugu dan juga polos. Dia adalah seorang yatim piatu yang sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Yu Yuan hanya memiliki seorang ayah angkat yang mengadopsinya saat Dia masih bayi.

Kisah Inspiratif Yu Yuan Gadis Kecil Penderita Leukemia Berhati Malaikat

Yu Yuan yang semasa hidupnya menderita penyakit leukemia yang merupakan salah satu penyakit yang sangat ganas. Sebagian tubuh penderitanya tak lagi sanggup menahan penyakit ini. Termasuk Yu Yuan, gadis kecil yang pada saat itu berusia 8 tahun.

Dilansir dari berbagai sumber, kisah hidup gadis kecil ini sangat menyedihkan. Begitu lahir dia tidak pernah mengetahui siapa orang tua kandungnya. Gadis kecil itu awalnya dibuang oleh orangtua kandung di sebuah taman dengan catatan kecil mengenai tanggal dan jam dirinya dilahirkan.

Beruntung, ada seorang pria miskin berumur 30 tahun yang tinggal di Provinsi Sichuan melihat seorang bayi mungil tergeletak sendirian dengan suara tangisannya sudah mulai melemah yang pada saat itu kondisi cuaca sedang hujan.

Karena miskin, pria itu tidak dapat menemukan pasangan hidupnya. Sejenak pria miskin itupun terhenti dan berkata dalam hati, “Kalau masih harus mengadopsi bayi kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya” .

Loading...

Namun, Pria miskin itu mengabaikan kata hatinya dan meyakinkan dirinya bahwa memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi adalah hal yang lebih penting. Lalu Pria itu berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal.

Dengan berat hati Pria miskin itu kemudian memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian pria tersebut akhirnya memutuskan untuk merawat dan membawa bayi mungil itu pulang ke rumah dan memberikan nama Yu Yuan serta menjadi ayah angkatnya.

Masa pertumbuhan gadis kecil nan malang ini tidak begitu baik. Tubuhnya sangat lemah dan sering sakit-sakitan lantaran kekurangan gizi. Sang ayah angkat hanya bisa memberikannya air tajin (air rebusan saat memasak beras) sebagai pengganti susu. Namun, Yu Yuan tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas. Kecerdasannya melebihi anak-anak lain yang sebaya dengannya.

Musim pun silih berganti, Yu Yuan tumbuh besar dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan, mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan Ayahnya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh menjadi gadis remaja.

Yu Yuan yang selama hidup dalam kesusahan, sejak umur lima tahun, dia sudah membantu Ayahnya mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal Dia kerjakan dengan baik, karena Dia sadar bahwa dirinya berbeda dengan anak-anak lain.

Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan Yu Yuan hanya memiliki seorang Ayah saja. Keluarga ini hanya mengandalkannya dan sang Ayah yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat Ayahnya menjadi sedih dan marah.

Gadis kecil itu pun kemudian masuk sekolah dasar, Yu Yuan sendiri sudah sangat mengerti, bahwa dirinya harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Sebab inilah yang bisa membuat Ayahnya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya.

Yu Yuan tidak pernah mengecewakan sang Ayah, dia pun sering bernyanyi untuk Ayahnya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada Ayahnya. Kadang-kadang Yu Yuan juga bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji Ayahnya.

Setiap kali melihat senyuman Ayahnya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki Ibu, tetapi Yu Yuan bisa hidup bahagia dengan sang Ayah sudah membuatnya sangat berbahagia.

Pada bulan Mei 2005, suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka tiba-tiba mengalami mimisan, Dia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Ayah angkatnya sangat terkejut saat melihat kondisi Yu Yuan dan melihat darah yang mengucur deras lewat hidung buah hatinya itu.

Dengan berbagai cara tetap saja tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga sang Ayah memutuskan membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Namun, sayang tetap tidak ada perubahan, darah tetap saja mengucur dan tak mau berhenti. Bahkan di paha Yu Yuan pun mulai bermunculan bintik-bintik merah.

Melihat kondisi Gadis malang itu, dokter kemudian menyarankan supaya Ayahnya membawa Yu Yuan ke Rumah Sakit untuk diperiksa serta mendapatkan perawatan medis terkait penyakit yang diderita Yu Yuan.

Sesampainya di rumah sakit, Yu Yuan tak mendapat nomor antrian karena antrian sudah panjang. Dia akhirnya hanya bisa duduk sendiri sembari menutupi hidungnya. Namun, darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus saja mengalir deras tanpa henti dan memerahi lantai.

Karena merasa tidak enak hati dengan orang disekitarnya, sang Ayah kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tak sampai sepuluh menit, baskom kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Disaat yang sama, beruntung ada seorang dokter yang melihat kondisi gadis malang itu, dokter pun kemudian cepat-cepat membawa Yu Yuan ke Ruang Pemeriksaan untuk mendapatkan perawatan medis. Sang Ayah pun hanya bisa pasrah menunggu keterangan dokter mengenai penyakit yang diderita anaknya.

Setelah diperiksa, berita pahit dan menyedihkan harus diterima oleh mereka berdua, dokter menyatakan, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, Yu Yuan didiagnosis terkena Leukemia ganas, sebuah penyakit mematikan yang biaya pengobatannya sungguh sangat mahal. Diperkirakan untuk pengobatan penyakit tersebut memerlukan biaya sebesar US$300.000.

Yu Yuan Sedang Menjalani Perawatan Dijaga Oleh Ayahnya di Rumah Sakit

Sang Ayah mulai cemas melihat kondisi anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Ayahnya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman-temannya. Namun sayang, ternyata uang yang terkumpul sangatlah sedikit.

Kemudian Ayahnya pun mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak memungkinkan untuk dapat menemukan seorang pembeli.

Melihat mata Ayahnya yang sedih dan pipi yang kian hari semakin kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih, namun gadis kecil itu berusaha untuk tetap tegar dan berusaha menghibur sang Ayah dengan senyuman kecil. Akan tetapi sang Ayah menyadari bahwa senyuman itu adalah sesuatu yang dipaksakan oleh Yu Yuan semata-mata untuk menghiburnya saja.

Pada suatu hari, Yu Yuan menarik tangan Ayahnya, air mata pun mengalir dikala kata-kata yang belum sempat terlontar, “Ayah saya ingin mati!”, kata Yu Yuan dengan tersedu-sedu.

Mendengar ucapaan Yu Yuan, Sang Ayah pun terkaget dengan pandangan berkaca-kaca melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?”, tanya Sang Ayah.

“Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini,” ungkap Yu Yuan yang meneteskan air mata.

Selanjutnya, setelah beberapa hari berada dirumah sakit, Yu Yuan mewakili Ayahnya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga Yu Yuan pun kembali pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari pertama saat berada di rumah meminta dua permohonan kepada Ayahnya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.

Yu Yuan berkata kepada Ayahnya, “Setelah saya tidak ada, kalau Ayah merindukan Saya lihatlah foto ini”.

Mendengar kata-kata Yu Yuan tersebut, sang Ayah semakin sedih dan hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan anaknya tersebut.

Keesokan harinya, Sang Ayah meminta seorang wanita yang tinggal di desanya dan biasa di panggil Bibi oleh Yu Yuan agar ikut pergi ke kota menemani dirinya dan Yu Yuan untuk membeli baju baru. Sesampainya di kota, Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.

Bibinya juga memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu Yu Yuan mencoba pakaian itu, Yu Yuan pun tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.

Kisah Yu Yuan pun akhirnya terdengar oleh seorang wartawan di daerah itu. Kalau bukan karena seorang wartawan bernama Fu Chuan yang bekerja di salah satu perusahaan surat kabar, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Fu Chuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak berumur 8 tahun yang mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota di Provinsi Sichuan.

Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, mulai dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dana yang terkumpul dari orang-orang baik di seluruh penjuru dunia berhasil mengumpulkan uang US$560.000. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik terang kehidupan Yu Yuan kembali muncul oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, akan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya pengobatan terhadap Yu Yuan.

Ada seorang teman di email bahkan menulis, “Yu Yuan anakku yang tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian, akhirnya dibawa kembali ke Rumah Sakit yang berada di kota itu. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup.

Akhirnya Yu Yuan pun menerima pengobatan dengan melihat kondisinya yang sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian hanya terbaring di ranjang disertai dengan infus yang melekat ditubuhnya.

Ketegaran gadis kecil ini membuat semua orang kagum padanya, dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual (muntah) yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.

Perjuangan Yu Yuan Baru Akan Dimulai dan Akan Melakukan Rangkaian Pemeriksaan dan Terapi

Pada hari pertama, saat dilakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata sama sekali.

Yu Yuan yang dari lahir sampai maut akan menjemputnya tidak pernah mendapat kasih sayang seorang Ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil Shii Min dengan sebutan, “Ibu”, kata Yu Yuan.

Mendengar suara itu berasal dari ucapan Yu Yuan, Shii Min pun kaget, kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”, balas Shii Min.

Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email.

Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Tak jarang Yu Yuan pun pernah mengalami beberapa kali pendarahan di pencernaan, namun selalu selamat dari kejadian tersebut. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obatan saat menjalani terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi, tubuh Yu Yuan pun semakin melemah.

Pada bulan Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Chuan, “Bibi kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?”, tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.

Wartawan tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudian berkata, “Bibi, saya juga mau menjadi orang yang baik hati”.

Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik,” ucap Wartawan tersebut.

Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, lalu memberikannya kepada ke Fu Chuan dan berkata, “Bibi ini adalah surat wasiat saya”.

Fu Chuan kaget sekali membuka dan melihat surat tersebut, ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat yang dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan ‘Bibi Fu Chuan’ dan diakhiri dengan ‘Selamat Tinggal Bibi Fu Chuan’.

Dalam surat itu nama Fu Chuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat ‘Bibi Wartawan’. Bahkan dalam isi suratnya dia juga mengatakan terimakasih dan selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.

Surat wasiat ini membuat Fu Chuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. Dan ini adalah kata-kata yang ditulis Yu Yuan dalam surat wasiatnya sebelum gadis kecil yang malang itu pergi untuk selama-lamanya.

Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh.

Sampai jumpa Bibi, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga Ayah saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya dan katakan ini juga kepada pemimpin palang merah.

“Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh”

Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Kejadian tersebut bermula saat Yu Yuan berusaha mengambil Mie Instan lalu memakannya. Hal ini membuat pendarahan hebat dan membuat luka semakin parah di bagian pencernaan Yu Yuan.

Mengetahui apa yang telah dilakukan Yu Yuan, dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus serta melakukan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat.

Seluruh pegawai yang berada di Rumah Sakit termasuk dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan penderitaannya. Tetapi tetap tidak ada yang bisa menolongnya, dikarenakan penyakit Leukemia yang diderita Yu Yuan termasuk ganas dan telah memasuki stadium akhir.

Gadis kecil bernama Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit yang dideritanya itu pun akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini, melihat malaikat kecil yang cantik dan berhati mulia, sungguh telah pergi meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya.

Ayah Angkat Yu Yuan Menangis Saat Yu Yuan Meninggal

Kabar kepergian Yu Yuan pun merebak, banyak sekali email yang masuk dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak pula orang-orang yang  yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk ‘setinggi gunung’.

Ada seorang pemuda yang berkata dengan pelan, “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakkan lah kedua sayapmu. Terbanglah…”

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah Papa dan Mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya.

Kisah Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah Papa dan Mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tersenyum. Di atas batu nisannya tertulis, “Saya Pernah Datang dan Saya Sangat Patuh (30 November 1996 – 22 Agustus 2005)” dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. “Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu”.

Batu Nisan Yu Yuan Terukir “Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh ” (30 November 1996 – 22 Agustus 2005)

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana sebesar US$540.000 tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita Leukemia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie, Chen Xiang Li.

Tujuh anak kecil yang menderita ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di Rumah Sakit Huaxi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut.

“Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan Aku Sangat Patuh.”

Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat dunia.

Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan.

Yu Yuan Semasa Hidup Saat Menjalani Pengobatan Medis

Kisah Inspiratif Yu Yuan ini telah menginspirasi banyak orang untuk saling membantu dan tetap tegar dalam menjalani hidup meski cobaan berat menerpa. Pribadi dan hati seperti ini yang dinamakan pribadi seorang pengasih. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

(Kisah Yu Yuan ini dilansir dari beberapa sumber situs di internet dan telah mengalami pengeditan dan penyesuaian seperlunya)

loading...
Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan :